Translate

hasna' knr


 Sumber Pencemaran Udara

Kita akan membahas sumber pencemaran udara khususnya Karbon Dioksida (CO2). Dalam membahas Karbon Dioksida (CO2) mungkin kita tidak terlepas dari Karbon Monoksida (CO).
1.    Pengertian Karbon Dioksida(CO2)
Karbondioksida adalah gas atmosfer yang terdiri dari satu atom karbon dan dua atom oksigen. Karbondioksida merupakan senyawa kimia yang banayk ditemukan dengan formula CO2. Karbondioksida merupakan salah satu bahan pencemar di udara.
Kardondioksida ditimbulkan dari pembakaran bahan organik dengan oksigen dalam jumlah yang cukup. CO2 juga dihasilkan oleh perbagai mikroorganisme, dan hasil pernapasan seluler. Tumbuhan menggunakan karbondioksida untuk fotosintesis, untuk membentuk karbohidrat dan O2. Tambahan lagi, tumbuhan membebaskan oksigen ke atmosfer dimana akhirnya digunakan untuk pernapasan oleh organisme heterotropik. Keberadaannya di atmosfer bumi pada kepekatan rendah dan bertindak sebagai gas rumah kaca. CO2 merupakan komponen utama senyawa karbon.
2.    Karbon Monoksida(CO)
Karbonmonoksida atau CO adalah suatu gas yang tak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu di bawah -1920C. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dengan udara, berupa gas buangan. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam udara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain dari itu gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lainnya. Secara umum terbentuknya gas CO adalah melalui proses berikut ini :
1.    Pembakaran bahan bakar fosil dengan udara yang reaksinya tidak stoikhiometris adalah harga ER > 1.
2.    Pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan gas CO.
3.    Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan Oksigen.


  Dampak Pencemaran Udara

1.       Dampak Karbon Dioksida (CO2)
Dampak pelepasan karbondioksida tidak dipahami oleh semua orang karena gas tersebut tidak berbau dan bukan toksik. Konsentrasi karbondioksida di atmosfer telah meningkat dari kira-kira 280 ppm pada abad ke-18 (sebelum era revolusi industri) menjadi 379 ppm pada tahun 2005.
Menjelang tahun 2009 kadarnya meningkat menjadi 700 ppm jika cara hidup manusia terus berlangsung seperti sekarang. Secara bandingan, planet lain seperti Marikh, suhunya kira-kira 4000 Celcius dan 90% atmosfernya adalah karbondioksida. Gas karbondioksida yang terlalu banyak menyebabkan udara panas di bumi terperangkap dan akhirnya suhu bumi meningkat dan lingkungan menjadi panas. Penyusutan lapisan ozon juga menyebabkan kejadian pemanasan global. Dampaknya adalah permukaan bumi menjadi panas, ekosistem terganggu, anjir sering terjadi, dan juga terjadinya fenomena alam yang tidak normal.

2.       Dampak Karbon Monoksida
a.    Pengaruh karbonmonoksida terhadap kesehatan masyarakat
Karbonmonokside sebagai gas yang cukup banyak di udara yang terjadi dari sumber-sumber yang mengalami pembakaran tidak sempurna merupakan gas tak berbau, tak berasa serta tak berwarna.pada pernapasan ia ikut terhirup yang sampai di dalam paru-paru bergabung/ terikat dengan Hb menjadi KarboksiHaemoglobin (CO Hb). Dengan diikatnya haemoglobin oleh Karbonmonoksida sini, maka Hb tidak cukup mampu lagi untuk mengikat O2 sehingga tidak dapat lebih leluasa memberikan oxygenasi kepada jaringan-jaringan.
      Afinitas untuk mengikat Hb bagi CO adalah 200 kali daripada Oksigen, sehingga dapat dibayangkan bila di dalam udara pernapasan yang kita hirup itu mengandung CO, akan dengan sendirinya sangat mengganggu pengangkutan O2 oleh Hb.
      Efek CO ini adalah terhadap sistem susunan saraf pusat, yaitu bila kadar CO yang terhirup addalah 15 ppm untuk selama 10 jam. Di dalam ruangan industri menurut WHO ditentukan batasan yang tidak boleh melebihi 50 ppm selama 8 jam.
     
Dalam keadaan normal hemoglobin berfungsi sebagai pembawa atau pengangkut oksigen (O2) dalam bentuk oksihemoglobin dari paru-paru untuk dibagikan kepada sel-sel tubuh yang memerlukannya. Selain dari itu, hemoglobin juga berfungsi mengambil gas CO2 hasil pembakaran di dalam tubuh dalam bentuk karbondioksihemoglobin untuk dibuang keluar melalui paru-paru.
      Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap oleh manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Konsentrasi CO sebanyak 1000 ppm dan waktu paparan (kontak) selama 1 jam menyebabkan pusing dan kulit  berubah menjadi kemerah-merahan. Untuk paparan yang sama dengan konsentrasi CO 1300 ppm, kulit akan langsung berubah menjadi merah tua dan disertai rasa pusing yang hebat. Untuk keadaan yang lebih tinggi lagi, akibatnya  akan lebih fatal, yaitu kematian. Bagaimana diagram aliran darah dalam fungsinya sebagai pengangkut oksigen untuk dibagikan ke bagian tubuh yang memerlukan oksigen, maupun fungsinya sebagai pengambil karbondioksida yang dihasilkan oleh bagian tubuh untuk dibuang keluar melalui paru-paru.
      Ikatan karbonmonoksida dengan darah (hemoglobin) yang begitu kuat, kurang lebih 140 kali lebih kuat dari ikatan oksigen dengan darah, menyebabkan darah tidak berfungsi normal sebagai pengangkut oksigen ketika karbondioksida masuk ke dalam darah.
      Pengaruh karbonmonoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama untuk manusia satu dengan yang lainnya. Daya tahan tubuh manusia ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya karbonmonoksida. Para olahragawan pada umumnya mempunyai toleransi yang tinggi terhadap racun gas karbonmonoksida. Orang yang menderita kekurangan darah (anemia) dan anak-anak akan mudah keracunan gas monoksida.
      Keracunan gas monoksida dapat ditandai dari keadaan yang ringan, berupa pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovascular, serangan jantung, sampai pada kematian.
      Konsentrasi gas monoksida atau CO di udara secara langsung akan mempengaruhi konsentrasi karboksihemoglobin (COHb). Bila konsentrasi gas CO di udara tetap maka konsentrasi COHb di dalam darah akan mencapai keseimbangan tertentu dan akan tetap bertahan selama tidak ada perubahan pada konsentrasi CO di udara.
      Konsentrasi gas CO di suatu ruang akan naik bila di ruang itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 2000ppm yang kemudian menjadi encer, sekitar 4000-5000ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi di dalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat. Keadaan ini sudah tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu cukup lama (perokok berat) konsentrasi COHb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.


Konsentrasi CO di udara (ppm)
Konsentrasi COHb dalam darah (%)
Gangguan pada tubuh
3
0,98
Tidak ada
5
1,3
Belum begitu terasa
10
2,1
Sistem syaraf sentral
20
3,7
Panca indra
40
6,9
Fungsi jantung
60
10,1
Sakit kepala
80
13,3
Sulit bernapas
100
16,5
Pingsan – kematian
 Tabel 1 : pengaruh konsentrasi CO di udara dan pengaruhnya pada tubuh bila kontak terjadi pada waktu yang lama.
Pengaruh konsentrasi gas CO di udara sampai dengan 100ppm terhadap tanaman hampir tidak ada, khususnya pada tanaman tingkat tinggi. Bila konsentrasi gas CO di udara mencapai 2000ppm dan waktu kontak lebih dari 24 jam, akan memepengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas yang ada pada lingkungan terutama yang terdapat pada akar tanaman.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    


 Cara Penanggulangan Pencemaran Udara

1.    Penanganan Pencemaran Udara
Tiga komponen yang harus diperhatikan untuk dilihat bagi pemecahan masalahnya secara epidemiologis, yaitu:
a.    Sumber-sumber emisi, yang akan merupakan suatu sub system tersendiri pada penanggulangan nantinya.
b.    Dunia udara kita (atmosfer) sebagai suatu sub system dari system ekologi keseluruhannya.
c.    Reseptor sebagai pihak-pihak yang nantinya akan mengalami akibat peristiwa pencemaran. Reseptor ini ternyata adalah unsur biotis maupun abiotis (lingkunga fisik).
Pada prinsipnya dapat ditempuh 4 pokok-pokok penanggulangan yang masing-masing bersifat sebagai suatu pendekatan untuk dilakukan tindakan-tindakan tertentu, keempat pendekatan itu adalah:
a.    Pendekatan Tehnologis
Adalah suatu pendekatan yang tehnologis lebih ditujukan kepada faktor sumber emisi beserta segala sesuatunya yang menjalin bersama-sama sebagai sub system. Pendekatan tehnologis yaitu dengan pengendalian pencemaran melalui perubahan proses dalam subsystem sumber emisi dan pengendalian sumber emisi melalui cara-cara pembuangan kontaminan.
b.    Pendekatan Planologis
Adalah suatu pendekatan yang ditujukan bagi pertataan lingkungan fisik kita, agar timbal balik dapat menghindar akibat-akibat merugikan yang dapat diperkirakan menimpa reseptor. Jelasnya lingkungan hidup kita harus dapat tertata sedemikian rupa melalui perencanaan dan implementasi planologis untuk menciptakan suatu lingkungan hidup (perkotaan) yang mampu menjamin rasa aman, keindahan, maupun persyaratan-persyaratan hidup hygienis dan sosial yang lebih baik.
Beberapa pokok langkah planologis yang perlu memperoleh perhatian dalam perencanaan tata kota adalah sebagai berikut :
1.    Lokalisasi daerah-daerah sumber emisi, dengan cara penetapan terhadap daerah industri yang cukup jauh dari daerah permukiman penduduk.
2.    Pencatatan daerah kota dalam berbagai zonifikasi dengan masing-masing peranan tertentu, seperti daerah non-industri, daerah industri, zone pusat pemerintahan, zone pusat transportasi, dll.
3.    Perencanaan system jalur transportasi dalam kota, semakin padat kendaraan berotor, berarti semakin lambat kecepatan kendaraan bermotor, sehingga CO yang dihasilkan akan lebih banyak daripada dalam keadaan cepat. Selain itu dengan pembagian jalur-jalur khusus misalnya jalur khusus untuk becak, jalur khusus untuk angkutan, untuk taxi, dll.
c.    Pendekatan Administratif
Adalah suatu pendekatan yang akan mengikat semua pihak mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku karena berlakunya suatu ketentuan hukum terhadap masyarakat serta dibinanya ketentuan-ketentuan administratif oleh petugas-petugas maupun aparat pelaksana pemerintahan dengan seksama.
d.    Pendekatan Edukatif
Setiap langkah yang perlu dikerjakan dan diperkembangkan untuk membina dan memberikan penerangan terus-menerus kepada masyarakat baik dalam rangka motivasi maupun membangkitkan kesadaran ikut memelihara kelestarian lingkungan hidup.
Selain dengan cara-cara tersebut diatas, pengendalian pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara deteksi/monitoring untuk mengetahui tingkat pencemaran oleh suatu polutan dengan alat-alat tertentu dan dengan cara analyse yang menggunakan alat-alat khusus juga. Untuk cara alami, pengembangan hutan buatan juga dapat dilakukan, karena beberapa pepohonan mempunyai sifat baik untuk mengabsorbsir gas-gas tertentu di udara.

2.    Kontrol terhadap polusi CO
Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengontrol polusi CO di udara. Kebanyakan usaha tersebut ditujukan untuk mengurangi polusi CO dari kendaraan bermotor karena sebanyak 64% dari seluruh emisi CO dihasilkan dari transportasi, terutama yang menggunakan bahan bakar (oli,bensin). Hasil pembakaran mesin ini selain mengandung CO juga mengandung campuran NOx,HC dan partikel, sehingga masalah yang harus dipecahkan juga kompleks. Rasio antara udara dan bahan bakar yang rendah akan mengurangi emisi NOx tetapi menghasilkan emisi CO dan HC yang tinggi. Penggunaan rasio udara dengan bahan bakar yang tinggi mungkin dapat memecahkan masalah ini.
Berbagai cara telah dilakukan untuk mengontrol emisi CO dari kendaraan bermotor. Cara-cara tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :
1.    Modifikasi mesin pembakar untuk mengurangi jumlah polutan yang terbentuk selama pembakaran.
2.    Pengembangan reaktor sistem ekshaust sehingga proses pembakaran berlangsung sempurna dan polutan yang berbahaya diubah menjadi polutan yang lebih aman.
3.    Pengembangan substitusi bahan bakar untuk bensin sehingga menghasilkan polutan dengan konsentrasi rendah selama pembakaran.
4.    Pengembangan sumber tenaga yang rendah polusi untuk menggantikan mesin pembakaran yang ada.
Contoh dari rektor sistem ekshaust misalnya reaktor ekshaust termal dan reaktor katalitik. Reaktor ekshaust termal terdiri dari suatu wadah yang bersuhu tinggi yang menempel pada mesin. Jika gas buangan melalui wadah panas tersebut, udara akan dimasukkan  dimana tersedia oksigen untuk proses pembakaran lengkap. Masalah yang dihadapi adalah untuk membuat wadah tersebut harus digunakan bahan yang tahan panas dan dapat dipanaskan dengan cepat, dan tahan terhadp korosi terutama oleh garam timbal (Pb).
Tipe reaktor kedua yang disebut reaktor katalitik menggunakan suatu bed yang berisi butiran bahan katalis yang menjadi aktif pada suhu sedang. Gas buangan akan bercampur dengan udara dan melalui katalis yang telah di aktifkan. Dengan adanya katalis, oksidasi berlangsung sempurna pada suhu yang lebih rendah dari pada di dalam rektor termal.

KASUS-KASUS


Karbon Monoksida (CO)

     Karbon monoksida yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berrasa sering kali sangat berbahaya ketika manusia tidak sadar sedang terpapar Karbon Monoksida yang kemudian akan mengakibatkan pusing yang hebat, mual, sakit kepala, sulit bernapas, pingsan atau yang lebih parahnya yaitu kematian.
     Banyak kasus telah dijumpai akibat dari terpaparnya manusia dengan Karbon Monoksida yaitu:
1.   Karbon Monoksida yang dihasilkan alam.
     Sering kita jumpai kasus kematian makhluk hidup dan manusia di daerah pegunungan aktif yang menghasilkan gas Karbon Monoksida salah satunya yaitu di daerah pegunungan Dieng. Makhluk hidup yang berada di sekitar kawah atau di sekitar pegunungan sangat riskan terkena dampak ini. Pada sebuah kasus ditemukan bahwa terdapat manusia tidak sadar sedang terpapar gas Karbon Monoksida akibatnya tiba-tiba merasa lemas, pusing, pingsan dan kemudian meninggal.
2.   Karbon Monoksida akibat pembakaran tidak sempurna.
     Sebagai efek pembakaran yang tidak sempurna, Karbon Monoksida sering dijumpai pada pabrik-pabrik dan di dalam kendaraan seperti mobil, bus atau jenis kendaraan yang lainnya. Banyak ditemukan kasus pekerja pabrik yang terpapar Karbon Monoksida selama berjam-jam mengalami pusing, mual dan sakit kepala. Salah satu kasus yang mengagetkan yaitu meninggalnya manusia yang sedang tidur di dalam mobil dan menyalakan AC. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kebocoran di kabin dan tempat pembakaran. AC yang dalam penggunaannya harus menyalakan mobil sehingga gas CO yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna mesin mobil kemudian masuk ke kabin yang kemudian dihirup oleh manusia tersebut.

  Karbon Dioksida (CO2)

Karbon Dioksida (CO2) tidaklah berdampak mematikan langsung terhadap manusia namun Karbon Dioksida adalah salah satu penyebab adanya Gas Rumah Kaca. Penggunaan bahan bakar fosil / Fossil Fuel sebagai bahan bakar penggerak mesin adalah penyumbang terbanyak gas Karbon Dioksida di udara. Efek Gas Rumah Kaca mengakibatkan adanya pemanasan global pada bumi.
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
 Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
Telah dijelaskan diatas bahwa efek gas Karbon Dioksida tidaklah langsung terhadap manusia namun berefek terhadap rusaknya alam akibat Global Warming yang dampaknya luas sekali. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Pemansan Global akan mengakibatkan bencana alam terjadi dimana-mana. Perubahan iklim yang mengakibatkan gagal panen, mutasi berbagai penyakit yang sebelumnya tidak berbahaya menjadi berbahaya, terjadi kekeringan akibat sedikitnya curah hujan, banjir akibat dari berlebihnya curah hujan di berbagai tempat dan masih banyak efek dari pemanasan global ini.
      Contoh kasus lain :

1.    Rusia
Untuk pertama kalinya suhu Moskow mencapai 37,8 derajat Celcius. Panas membuat kebakaran hutan dan mengeringkan lahan gambut, sehingga menyelimuti Rusia dengan kabut asap beracun. Kematian meningkat menjadi 700 jiwa per hari.
Tahun 2007, laporan IPCC memprediksi bencana kekeringan di Rusia meningkat dua kali dan melihat kemungkinan kebakaran selama bertahun-tahun. Rusia juga disebut akan kehilangan hasil pertanian.

2.    Pakistan
Hujan lebat terus-menerus selama 36 jam membuat sungai Indus di Pakistan meluap. Diperkirakan 14 juta rakyat Pakistan kena dampak banjir. Pemerintah Pakistan menyebutnya bencana terburuk dalam sejarah bangsa itu.
Tahun 2007, laporan IPPC menyatakan hujan lebih lebat selama 40 tahun di utara Pakistan dan memprediksi banjir dahsyat akan melanda bagian selatan Asia ini.

3.    China
      Negara berpopulasi terbesar di dunia ini mengalami banjir terburuk sedekade, terutama di provinsi di barat laut, Gansu. Banjir dan longsor menewaskan 1.117 orang dan membuat 600 orang hilang.
Tahun 2007, laporan IPPC menyatakan hujan meningkat di barat laut China 33 persen dibanding 1961. Banjir di seluruh negeri meningkat tujuh kali dibanding 1950. Dan banjir akan sering terjadi di abad ini.

4.    Arktik
Sebuah bongkahan es seluas 260 kilometer persegi telah mengapung di barat laut Greenland. Bongkahan es ini adalah yang terbesar tercatat dalam sejarah memisahkan diri dari Arktik.
Es yang mencair ini menyebabkan kenaikan permukaan laut di seluruh dunia, sebagai akibat dari ekspansi cuaca panas ke kawasan kutub. Kenaikan muka laut adalah 3,4 milimeter per dekade, dua kali lipat angka di abad 20.


5.    Kutub Utara
      Dr. Mark Serreze, ilmuwan periset senior dari pusat data salju dan es Amerika Serikat dan Dr. Olav Orheim, pimpinan sekretariat Norwegia dari Tahun Kutub Internasional menyatakan ada kemungkianan bahwa es di laut kutub utara akan mencair pada musim panas 2012. mereka menemukan bukti penipisan es yg terjadi hampir 18 cm setiap tahunnya antara tahun 2002 dan 2008. seperti yg kita ketahui, laut arktik mendangkal lebih dari 80% radiasi matahari untuk mendinginkan air laut. tanpa es arktik, maka panas matahari dapat masuk ke air terbuka yg mempercepat pemanasan global.

6.    New England
Lobster tumbuh di perairan dingin New England, namun angka terbaru menunjukan bahwa air yg kian menghangat membuat populasi semakin sedikit.

7.    Amerika Serikat
Global warming mengakibatkan tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan di Amerika Serikat. para peneliti di Scripps Institution of Oceanography dan University of Arizona menemukan 4 kali lebih banyak kebakaran besar terjadi di hutan barat antara tahun 1987 dan 2003 dibandingkan 16 tahun sebelumnya.

8.    Amazon
      Sebuah studi mengatakan bahwa eksistensi hutan Amazon dapat berkurang sampai 70% jika pemanasan global terus terjadi tak terkendali.

9.    Inggris
      Meningkatnya permukaan laut akan menyebabkan kota-kota seperti London akan mengalami banjir di akhir abad ini. menurut penelitian, laju pemanasan global yg kian cepat akan meningkatkan permukaan air laut lebih dari sebelumnya. diramalkan bahwa London akan tenggelam di tahun 2100.

10.  Swiss
      Seraya meningkatnya suhu di daerah Alpen, hal ini akan membuat mencairnya salju terjadi lebih sering, maka diperkirakan bahwa es puncak Alpen akan mencair seutuhnya dan gletsernya akan hilang antara tahun 2030 dan 2050.

11.   Afrika
      Gurun Sahara akan menjadi padang rumput. para ilmuwan sudah melihat tanda-tanda bahwa gurun Sahara yg gersang jadi semakin hijau karena meningkatnya curah hujan. hal ini akan berakibat pada rusaknya ekosistem di gurun tersebut.

12.  Indonesia
      Menteri Lingkungan Hidup telah mengumumkan dari kajian ilmiah yg ada, diperkirakan ada sekitar 2000 pulau tropis di tanah air akan menghilang pada tahun 2030, dimana 20 tahun dari sekarang.

13.  Filipina
      Departemen Pusat Aksi Sentral Pertanian melaporkan bahwa kekeringan akibat el nino telah menyebabkan kehilangan lebih dari 144.000 ton jagung dan 56.000 ton beras di seluruh 14 provinsi.

14.  Australia
      Climate Action Network Australia melaporkan bahwa populasi koala di Australia akan punah dalam beberapa dekade mendatang. ini disebabkan makin tingginya suhu dan tingginya kadar CO2 akan membunuh populasi ekaliptus, makanan utama koala.Great Barrier Reef yg terkenal itu akan hilang dalam kurun waktu 20 tahun mendatang.






Carbon Dioksida (CO2)
4 Responses
  1. sangat bermanfaat,terimakasi.




  2. Gita Laurent Says:

    sangat bermanfaat..
    tapi boleh tau sumberny dari mana nggak?


Posting Komentar